Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Harga emas mengalami tekanan jual besar pada hari Selasa, merosot dari pembukaan di $4.842 per troy ounce ke level terendah harian di sekitar $4.700. Penyebab utamanya? Dolar AS yang menguat signifikan, ditambah kekhawatiran inflasi yang terus membesar akibat konflik Iran yang belum kunjung reda.
Menariknya, ada dilema di balik pergerakan ini: krisis geopolitik yang awalnya mendorong investor “berlindung” ke emas, kini justru memicu potensi pengetatan moneter — yang membuat emas jadi kurang menarik.
Emas berjangka turun ke $4.801,80 per ounce, sementara perak juga ikut terseret dengan kontrak Mei jatuh ke $78,96 per ounce. Indeks Dolar AS (DXY) menunjukkan penguatan impresif di awal sesi. Menjelang tengah hari, emas sudah menembus ke bawah level psikologis $4.800.
Pada pukul 9:15 pagi waktu ET, emas diperdagangkan di $4.763 — turun $41 dibanding jam yang sama di hari Senin, meskipun rentang pergerakan intraday jauh lebih lebar dari itu.
Latar belakang makroekonomi semakin kompleks. Investor menunggu negosiasi AS-Iran putaran kedua di Pakistan, sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir akhir pekan ini. Presiden Trump menyatakan tidak akan memperpanjang gencatan tanpa kesepakatan, dan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga ada perjanjian.
Penutupan Selat Hormuz ini memicu apa yang disebut Trading Economics sebagai “guncangan pasokan energi bersejarah” — yang meningkatkan risiko inflasi dan probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral. Suku bunga yang lebih tinggi adalah tekanan klasik bagi emas, karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Sejak perang Iran dimulai, emas sudah turun lebih dari 8% dari puncaknya.
Pekan ini dipenuhi rilis data penting yang bisa memperbesar volatilitas: data ketenagakerjaan ADP (Selasa), klaim pengangguran awal dan PMI April (Kamis), serta laporan ekspektasi inflasi University of Michigan (Jumat). Kejutan kenaikan di data inflasi bisa memperdalam koreksi emas.
Data CME Group menunjukkan probabilitas suku bunga The Fed (bank sentral AS) tetap di 3,50-3,75% pada April mencapai 99,5% — artinya, pasar hampir tidak mengharapkan pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Meski tekanan jangka pendek cukup berat, proyeksi institusional tetap optimistis. JPMorgan dan Goldman Sachs memperkirakan emas berfluktuasi antara $4.000-$6.300 sepanjang 2026, didukung akumulasi bank sentral dan ketidakpastian geopolitik yang belum terselesaikan.
Permintaan bank sentral memang melambat dibanding rata-rata tahun lalu (27 ton per bulan), tapi secara geografis justru meluas — Malaysia, Korea Selatan, dan China aktif menambah cadangan emas. Permintaan struktural ini dipercaya banyak analis sebagai “lantai” yang membatasi penurunan berkepanjangan.
Perlu dicatat juga: meskipun turun $100 dalam sehari, harga emas masih naik lebih dari 25% sejak awal 2025 dan sekitar 43% secara year-on-year. Jadi, koreksi ini masih dalam konteks tren naik yang kuat.
Dalam jangka pendek, kombinasi dolar yang kuat, kekhawatiran inflasi, dan kalender diplomasi yang bisa memperburuk atau menyelesaikan konflik Timur Tengah dalam hitungan hari — semua ini membuat pasar tetap waspada. Apakah penurunan hari Selasa ini menjadi peluang beli atau awal koreksi lebih dalam? Jawabannya mungkin bergantung pada hasil negosiasi di Islamabad pekan ini.
Untuk Anda yang ingin memantau pergerakan harga emas terkini atau tertarik berinvestasi emas fisik, kunjungi anekalogam.co.id atau langsung datang ke toko Anekalogam di Mall Artha Gading.