Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Emas membuka pekan di $4.508,30 per troy ons pada Minggu malam, menguat karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong permintaan safe-haven. Tapi kenaikan itu tak bertahan — memasuki Selasa dolar AS menguat dan pasar menantikan data inflasi AS yang krusial. Tekanan makin besar midweek saat serangan udara AS ke Iran mendorong harga minyak naik, menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan meredupkan harapan gencatan senjata.
Titik terendah mingguan tercatat di $4.365,85 per troy ons (sekitar Rp 4,48 juta per gram) tepat setelah tengah malam Kamis. Pemulihan mulai terjadi ketika laporan kemungkinan kesepakatan AS-Iran mulai beredar — imbal hasil obligasi AS turun, dan emas langsung merespons positif. Puncaknya Jumat dengan harga menyentuh $4.594,92 sebelum akhirnya menutup pekan di $4.539,03 per troy ons.
Survei mingguan Kitco News melibatkan 12 analis Wall Street dan 39 investor ritel (Main Street) — dan keduanya bergerak ke arah yang berlawanan. Di sisi Wall Street, 9 dari 12 analis (75%) memperkirakan emas naik pekan ini, dua analis (17%) prediksi turun, dan satu analis (8%) antisipasi konsolidasi. Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex melihat potensi kenaikan jika gencatan senjata diperpanjang, karena hal itu mengurangi tekanan jual dari negara-negara eksportir minyak.
Sementara di Main Street, sentimen justru berbalik negatif: hanya 44% responden yang optimis emas naik, 26% memperkirakan penurunan, dan 31% antisipasi sideways. Menariknya, ini terjadi justru setelah emas pulih cukup kuat di akhir pekan.
Bob Haberkorn dari StoneX menyebut 17 Juni sebagai momen penting: itulah rapat pertama The Fed (bank sentral AS) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh — pilihan Trump sebagai Ketua The Fed yang baru. Warsh diperkirakan membawa arah kebijakan yang lebih akomodatif, dan Trump sendiri minggu lalu sudah bicara tentang suku bunga yang “jauh lebih rendah dari posisi saat ini.” Pernyataan itu sendiri sudah cukup sebagai sentimen bullish jangka menengah untuk emas.
Adam Turnquist dari LPL Financial mengingatkan bahwa fondasi jangka panjang emas tetap solid: permintaan bank sentral global tumbuh 17% kuartal ke kuartal di Q1 2026, dan kekhawatiran atas defisit fiskal AS serta tekanan inflasi belum kemana-mana. Emas sempat menyentuh rekor $5.595 di Januari sebelum terkoreksi ke level saat ini — yang membuat banyak analis melihat area $4.400 sebagai support kuat.
Untuk pekan ini, deretan data ekonomi AS akan menjadi penentu arah: ISM Manufacturing PMI (Senin), JOLTS Job Openings (Selasa), ADP Employment + ISM Services PMI (Rabu), klaim pengangguran mingguan (Kamis), dan puncaknya Non-Farm Payrolls (NFP) Jumat. Lukman Otunuga dari FXTM menjelaskan: “Data NFP yang lemah bisa menambah momentum kenaikan emas, terutama jika itu memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga di 2026” — di mana pasar saat ini memperkirakan probabilitas 60% The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Secara teknikal, level yang perlu diperhatikan menurut Otunuga: break di atas 21-day SMA membuka jalan ke 50-day SMA di $4.625, sedangkan kelemahan di bawah $4.450 bisa menarik emas kembali ke 200-day SMA di $4.400. Adam Button dari Forexlive.com punya pandangan sederhana namun tajam: “Tunggu kepastian perdamaian, lalu beli emas.” Di sisi lain, CPM Group justru mengeluarkan rekomendasi Sell dengan target $4.375 dan stop loss di $4.610, melihat risiko gelombang jual besar jika level $4.400 jebol.
Ingin mulai atau tambah posisi emas fisik? Tim Anekalogam di Mall Artha Gading siap membantu — atau kunjungi anekalogam.co.id untuk info produk terkini.