Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Thursday, 21 May 2026

Reli Emas Akan Berlanjut Setelah Konflik Iran, Target $5.400/oz di 2027

Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di USD 5.595/troy ounce pada Januari 2026, harga emas terkoreksi signifikan menyusul pecahnya konflik di Timur Tengah. Titik terendahnya tercatat di USD 4.099/oz pada pertengahan Maret, dan saat ini harga berada di kisaran USD 4.560/oz — turun lebih dari 10% sejak konflik dimulai. Koreksi ini lebih dalam dibanding krisis geopolitik besar sebelumnya seperti Perang Teluk atau invasi Rusia ke Ukraina, dan mencerminkan dua hal sekaligus: ketidakpastian inflasi dan positioning investor yang sudah sangat ramai (crowded) di awal tahun.

Kiran Kowshik, Global FX Strategist di Lombard Odier, menjelaskan mengapa emas tertekan justru di tengah geopolitik yang panas. Emas adalah aset non-yielding — ia bersinar saat imbal hasil riil (real yield) turun dan dolar AS melemah. Tapi kejutan pasokan energi akibat konflik Iran justru mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga, menguatkan dolar, dan membalikkan kondisi tersebut. Hasilnya: hubungan negatif yang kuat antara kenaikan harga energi dan harga emas.

Yang menarik, faktor-faktor struktural di balik reli emas sebelumnya justru masih utuh. Di kuartal pertama 2026, total permintaan emas global mencapai 790 metrik ton — di mana bank sentral membeli bersih 244 ton (naik 3% year-on-year). Tiongkok menyumbang 40% dari total permintaan fisik. Lombard Odier menilai pembelian bank sentral berfungsi sebagai price floor: institusi yang paling kecil kemungkinannya menjual kembali, sehingga menciptakan lantai harga yang solid. Porsi emas dalam cadangan bank sentral negara berkembang pun masih lebih rendah dibanding negara maju — artinya ruang pembelian ke depan masih besar.

Dua faktor kunci yang perlu diawasi investor ke depan adalah suku bunga dan geopolitik. Dari sisi suku bunga, The Fed (bank sentral Amerika Serikat) diperkirakan menahan kebijakan moneter sepanjang sebagian besar 2026, dengan kemungkinan pemangkasan baru hanya di akhir tahun. Jika ekspektasi ini terpenuhi, real yield akan cenderung turun dan mendukung emas. Dari sisi geopolitik, skenario dasar Lombard Odier adalah de-eskalasi konflik Timur Tengah — yang akan menurunkan harga energi, memperlemah dolar, dan membuka jalan bagi emas untuk rebound.

Lombard Odier mempertahankan target harga 12 bulan di USD 5.400/oz dan rekomendasi overweight untuk emas dalam portofolio. Fondasi jangka panjangnya tetap kokoh: sanksi keuangan AS yang mendorong diversifikasi cadangan bank sentral, ketidakpastian fiskal global, dan erosi bertahap daya beli dolar AS. Selama tren struktural ini tidak berubah, koreksi saat ini lebih tepat dibaca sebagai peluang akumulasi — bukan sinyal pembalikan tren.

Bagi investor emas di Indonesia, fase konsolidasi seperti ini kerap menjadi momen yang dimanfaatkan investor jangka panjang untuk menambah posisi sebelum reli berikutnya. Pantau harga emas terkini dan analisis pasar di anekalogam.co.id, atau kunjungi toko Anekalogam di Mall Artha Gading untuk konsultasi langsung.