Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Harga emas terus jadi sorotan di pasar global. Doug Moglia dari Rockefeller Global Investment Management menegaskan bahwa bull market emas masih utuh dan siklus komoditas baru ini baru saja dimulai. Sejak awal 2025, emas sudah naik 92%, sementara perak melonjak lebih dari dua kali lipat (+152%). Angka yang mencengangkan — dan Moglia percaya ini baru awal.
Moglia menyebut emas saat ini sedang memasuki bull market sekular ketiganya — setara dengan lonjakan besar di era 1970-an pasca runtuhnya sistem Bretton Woods, dan di awal 2000-an. Pemicunya kali ini: konflik Rusia-Ukraina dan sanksi terhadap cadangan devisa Rusia, yang memaksa bank-bank sentral dunia untuk mengevaluasi ulang cara mereka mengelola cadangan.
Hasilnya? Bank sentral memborong emas secara masif: lebih dari 1.000 ton per tahun dari 2022 hingga 2024, setara 20-25% dari total produksi tambang global. Pembelian ini secara struktural mengurangi sensitivitas emas terhadap faktor-faktor siklus biasa seperti suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan nilai tukar dolar.
Di 2025, giliran investor Barat masuk lewat ETF. Total kepemilikan ETF emas global melonjak hampir 20% hingga melampaui 3.000 ton. Meskipun pembelian bank sentral sedikit turun ke 863 ton, permintaan dari sisi investor ritel dan institusional mengisi kekosongan itu.
Moglia memproyeksikan emas akan melampaui $5.500 per troy ounce pada 2027 dan menyentuh $8.000 sebelum 2030 — dengan potensi overshoot hingga $10.000. Katalis yang mendukung antara lain: kekhawatiran atas independensi The Fed (bank sentral Amerika Serikat), risiko fiskal AS yang membengkak, dan ketegangan geopolitik seperti konflik Iran yang masih bergejolak.
Ia juga mengingatkan: bull market ini masih relatif muda. Bull market emas di era 1970-an berlangsung hampir satu dekade (1971–1980), begitu pula era 2000-an (2001–2011). Siklus saat ini baru berjalan empat tahun dengan kenaikan 200% — dan belum ada tanda-tanda pergantian rezim.
Berbeda dengan emas, Moglia memandang perak lebih sebagai aset taktis. Perak memang sudah naik spektakuler di 2025, tapi lebih rentan terhadap volatilitas karena likuiditas yang lebih tipis dan porsi penggunaan industri yang besar (lebih dari 50% permintaan).
Menariknya, rasio emas-perak sempat menyentuh 100 pada Mei 2025 — hanya terjadi dua kali dalam 50 tahun terakhir, dan jadi sinyal perak sangat murah secara relatif. Setelah normalisasi kembali ke kisaran 50-60, ruang taktis perak dinilai sudah lebih sempit.
Moglia menyoroti saham perusahaan tambang emas sebagai cara lebih efisien untuk mendapat eksposur ke kenaikan harga emas. Margin operasional lima tambang emas terbesar dunia sudah di level 40% — tertinggi sejak 2011 — dengan free cash flow gabungan sekitar $20 miliar. Tambang memberikan leverage ke harga emas tanpa biaya penyimpanan fisik, plus potensi dividen dan buyback saham.
Tertarik menambah porsi emas fisik di tengah proyeksi bullish ini? Kunjungi toko Anekalogam di Mall Artha Gading atau cek koleksi kami di anekalogam.co.id — dari koin hingga logam mulia batangan.