Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Friday, 04 September 2020

Harga Emas Turun, Kesempatan untuk Beli?

Harga emas dunia kembali melemah dalam 2 hari beruntun pada perdagangan Kamis kemarin. Dolar AS yang bangkit dari level terendah lebih dari 2 tahun memberikan tekanan bagi emas.

Kenaikan indeks dolar AS tersebut dipicu rilis data manufaktur AS yang melesat tinggi di bulan Agustus. Institute for Supply Management (ISM) Selasa lalu melaporkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur melesat menjadi 56 dari bulan Juli 54,2.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawah 50 berarti kontraksi, sementara di di atasnya berarti ekspansi.

PMI manufaktur bulan Agustus tersebut merupakan yang tertinggi sejak Januari 2019. Ekspansi sektor manufaktur yang meningkat memunculkan harapan perekonomian AS bisa segera bangkit dari kemerosotan tajam.

Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS kemarin melaporkan jumlah klaim tunjangan pengangguran bertambah sebanyak 881.000 orang, lebih rendah dari prediksi kenaikan 955.000 orang di Trading Economics. Meski klaim tersebut masih tinggi, tetapi kenaikannya tidak separah prediksi, artinya pasar tenaga kerja mulai membaik, emas pun makin tertekan.

Meski demikian jika melihat lebih ke belakang, harga emas sebenarnya bergerak dengan volatilitas tinggi artinya naik turun tajam dalam waktu singkat. Belum benar-benar dalam tren menurun.

Volatilitas tinggi tersebut dikatakan menjadi kesempatan melakukan aksi buy on dip alias beli saat harga turun oleh Frank Holmes, CEO dari U.S. Global Investor.

"Volatilitas emas menjadi peluang untuk buy on dip. Anda salah jika tak membeli emas," kata Holmes saat diwawancara oleh Kitco, Selasa (2/9/2020).
Holmes memprediksi harga emas akan mencapai US$ 4.000/troy ons dalam waktu 2 sampai 3 tahun ke depan. Prediksi tersebut didasarkan atas pergerakan emas dunia di tahun 2009-2011 saat bank sentral AS (The Fed) menerapkan kebijakan quantitative easing (QE) yang menyebabkan Balance Sheet The Fed membengkak. The Fed juga menerapkan kebijakan yang sama saat ini.

Jika harga emas dunia pada akhirnya kembali bergerak naik, maka harga emas Antam juga akan terkerek.

Satuan emas dunia yakni troy ons, yang setara 31,1 gram. Artinya jika emas dunia menyentuh US$ 4.000/troy ons, maka jika dijadikan per gram serta dirupiahkan menjadi sekitar Rp 1.890.000/gram (kurs Rp 14.700/US$).

Sumber : CNBC Indonesia