Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Kabar baik dari Timur Tengah membawa angin segar bagi pasar emas. Progres negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran berhasil mendorong harga emas menembus level $4.700 per ons (sekitar Rp1,2 juta per gram) — naik lebih dari 3% dalam sehari. Perak pun ikut terdongkrak, melonjak 6,5% ke atas $77 per ons.
Pemicunya? Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS akan menghentikan sementara pengawalan kapal di Selat Hormuz, karena ada "kemajuan besar" menuju "kesepakatan lengkap dan final" dengan perwakilan Iran. Pengumuman ini langsung menekan dolar AS ke level terendah 10 minggu — dan ketika dolar melemah, emas biasanya menguat.
Selain dolar yang melemah, berita positif dari Timur Tengah juga membuat harga minyak anjlok tajam. Ini meredakan kekhawatiran inflasi yang selama ini memaksa bank-bank sentral dunia mengambil sikap hawkish soal suku bunga.
David Morrison, Senior Market Analyst di Trade Nation, menilai bahwa apa pun yang mengurangi ketidakpastian geopolitik akan berdampak positif bagi pasar keuangan. "Belum jelas apa isi kesepakatan itu, terutama soal pembukaan kembali Selat Hormuz. Tapi investor tampak yakin bahwa setelah sepuluh minggu konflik, akhir perang mungkin sudah di depan mata," ujarnya.
Meski begitu, Morrison mengingatkan bahwa dampak perang terhadap ekonomi global dan inflasi sudah terlanjur besar. Artinya, pemangkasan suku bunga tahun ini belum tentu terjadi. "Investor bahkan melihat peluang 20% bahwa The Fed justru akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Kalau dolar kembali menguat, reli emas bisa tertahan," katanya.
Simon-Peter Massabni, Head of Business Development di XS.com, melihat momentum baru emas ini bukan sekadar pergerakan teknikal — melainkan cerminan pergeseran selera risiko global. "De-eskalasi seperti ini menciptakan dampak ganda: di satu sisi mendukung aset berisiko, di sisi lain memperkuat permintaan emas sebagai safe haven karena stabilitas yang masih rapuh," jelasnya.
Massabni menambahkan bahwa laporan Nonfarm Payrolls yang akan datang bisa jadi titik balik. "Kalau datanya lebih lemah dari ekspektasi, harapan pemangkasan suku bunga menguat dan langsung mendukung emas. Sebaliknya, data yang kuat bisa memicu koreksi," katanya.
Meski volatilitas jangka pendek masih tinggi, Massabni tetap optimis untuk jangka panjang. "Emas tetap menarik sebagai instrumen lindung nilai. Volatilitas saat ini sebaiknya dilihat dalam konteks pergeseran struktural sistem keuangan global — bukan sekadar reaksi sesaat terhadap berita," pungkasnya.
Tertarik memantau harga emas terkini atau ingin mulai berinvestasi emas fisik? Kunjungi anekalogam.co.id atau mampir langsung ke toko Anekalogam di Mall Artha Gading, Jakarta Utara.