Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Thursday, 23 April 2026

Emas Rebound saat Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang, tapi Sinyal Hawkish The Fed Masih Membayangi

Harga emas futures berhasil rebound pada hari Rabu, ditutup di $4.758 per troy ounce (sekitar Rp2,4 juta per gram) di bursa COMEX — naik $19 dalam satu sesi. Kenaikan ini cukup menarik karena terjadi di tengah penguatan dolar AS, setelah Presiden Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata AS-Iran tanpa batas waktu. Langkah ini membantu emas memulihkan sebagian dari aksi jual tajam di hari Selasa yang sempat menekan harga ke level terendah sejak 13 April.

Gencatan Senjata Diperpanjang, tapi Ketegangan Belum Reda

Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata beberapa jam sebelum perjanjian dua minggu sebelumnya berakhir. Ia menyatakan akan menunda aksi militer lebih lanjut sampai Tehran mengajukan proposal perdamaian baru. Setelah pengumuman ini, harga emas spot langsung naik hampir 1% ke sekitar $4.755.

Tapi jangan salah — situasi geopolitik masih jauh dari kata stabil. Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global, masih praktis tertutup karena Iran menolak membukanya selama Angkatan Laut AS masih memblokade pelabuhan Iran. Perundingan damai yang dijadwalkan hari Selasa juga batal setelah Wakil Presiden JD Vance membatalkan kunjungan ke Islamabad karena Iran menyatakan tidak akan hadir. Para analis memperingatkan: jika ketegangan kembali meningkat, harga emas bisa terdorong menuju kisaran $4.900–$5.000.

Sinyal Hawkish dari Calon Ketua The Fed

Tekanan terbesar justru datang bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Capitol Hill. Kevin Warsh, calon Ketua The Fed (bank sentral AS), tampil di hadapan Komite Perbankan Senat dan menyampaikan pernyataan yang dinilai hawkish oleh para trader. Warsh menegaskan tidak ada janji pemotongan suku bunga kepada Gedung Putih dan berkomitmen menjaga independensi bank sentral.

Pasar sudah memperkirakan hampir pasti bahwa rapat The Fed tanggal 28–29 April akan mempertahankan suku bunga di 3,50–3,75%. Tapi testimoni Warsh memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan hingga paruh kedua tahun ini. Bagi emas — yang tidak memberikan bunga atau dividen — lingkungan suku bunga tinggi mengurangi daya tariknya dibandingkan aset berbunga lainnya.

Permintaan Struktural Tetap Kuat

Di balik volatilitas harian, cerita besar permintaan emas tetap solid. Bank-bank sentral dunia sudah menjadi net buyer selama 23 bulan berturut-turut, dengan Bank Nasional Polandia, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Malaysia termasuk pembeli paling aktif di awal 2026. World Gold Council melaporkan permintaan kuartalan rekor sebesar 1.313 ton di Q3 2025, didorong oleh pembeli institusi dan investor ritel yang mencari perlindungan dari inflasi dan risiko mata uang.

Sementara itu, pasokan dari tambang hanya naik 1% tahun lalu — tidak cukup untuk mengimbangi permintaan yang terus meningkat. Kombinasi pasokan terbatas dan permintaan institusional yang kuat ini memberikan “lantai” bagi harga emas, bahkan di tengah tekanan makroekonomi.

Tiga Faktor yang Menentukan Arah Selanjutnya

Pergerakan emas jangka pendek bergantung pada tiga hal: (1) perkembangan diplomasi AS-Iran — negosiasi yang kredibel bisa meredakan harga minyak dan secara paradoks mengurangi salah satu pendukung utama emas; (2) data ekonomi yang akan rilis hari Kamis, termasuk flash PMI dan klaim pengangguran mingguan; dan (3) timeline konfirmasi Kevin Warsh yang masih terjerat dinamika politik Senat terkait penyelidikan terhadap Ketua The Fed saat ini Jerome Powell.

Institusi keuangan besar seperti JPMorgan dan Goldman Sachs memproyeksikan emas di kisaran $4.000–$6.300 sepanjang tahun ini, dan logam mulia ini sudah naik lebih dari 40% dalam 12 bulan terakhir. Penutupan di $4.758 menunjukkan pasar sedang konsolidasi — bukan mundur.


Ingin terus update soal pergerakan harga emas? Kunjungi anekalogam.co.id atau mampir langsung ke toko kami di Mall Artha Gading untuk konsultasi investasi emas Anda.