Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Para pelaku pasar logam mulia akhirnya bisa bernapas lega pada Kamis (9/7). Setelah tekanan sehari sebelumnya akibat kekhawatiran Selat Hormuz dan sentimen hawkish dari The Fed (bank sentral Amerika Serikat), emas spot berhasil rebound ke kisaran $4.120,80 per troy ons, naik sekitar 1,13% dalam satu hari perdagangan. Perak bahkan mencatat kenaikan lebih tajam, melonjak 2,82% ke $59,95 — sempat menyentuh $60,62 di titik tertinggi sesi.
Tiga katalis utama yang mengangkat logam mulia
Kenaikan ini didorong oleh tiga faktor yang datang bersamaan. Pertama, harga minyak mentah turun cukup signifikan: Brent crude melorot ke $75,50 per barel dan WTI ke sekitar $71,00 — seiring meredanya kekhawatiran penutupan Selat Hormuz. Ternyata, meski situasi militer di kawasan itu masih tegang, kapal tanker Iran tetap bisa melintas, sehingga risiko gangguan pasokan minyak menipis. Harga minyak yang lebih rendah berarti tekanan inflasi berkurang, dan itu secara langsung meringankan beban imbal hasil obligasi AS serta dolar.
Faktor kedua adalah pelemahan dolar. Indeks dolar (DXY) turun ke bawah 101,00, bahkan sempat menyentuh 100,80 — menjadikan emas yang diperdagangkan dalam dolar lebih terjangkau bagi pembeli dari negara lain. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun pun ikut melandai ke sekitar 4,53%, turun dari puncak tujuh minggu di 4,60% pada hari Rabu.
Katalis ketiga datang dari data ketenagakerjaan AS. Data penggajian (payrolls) bulan Juni hanya naik 57.000 — jauh lebih rendah dari ekspektasi — sementara tingkat pengangguran tetap di 4,2%, dan revisi dua bulan sebelumnya memangkas 74.000 posisi. Angka-angka ini meredam ekspektasi kenaikan suku bunga jangka pendek dari The Fed, meski para pejabat The Fed tetap mengungkapkan kekhawatiran soal inflasi dan mempertahankan kemungkinan kenaikan suku bunga di bulan September.
Apa yang ditunggu pasar selanjutnya?
Pekan depan menjadi krusial. Rilis data CPI (inflasi konsumen AS) dan kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di Kongres akan menjadi penentu arah berikutnya. Jika CPI datang lebih rendah dari perkiraan, risiko kenaikan suku bunga September bisa berkurang — dan itu membuka jalan emas untuk menguji zona resistensi $4.162–$4.214 per troy ons. Sebaliknya, jika harga minyak kembali melonjak karena eskalasi di kawasan Timur Tengah, tekanan inflasi bisa kembali menekan logam mulia.
Dari sisi teknikal, emas saat ini bertengger di atas $4.100 tetapi masih di bawah zona resistensi $4.162–$4.214. Support terdekat berada di $4.072 dan $4.041, sedangkan jika berhasil menembus resistensi, target berikutnya adalah rata-rata bergerak 50 hari di $4.362. Untuk perak, level kunci yang perlu diperhatikan ada di $59,44 sebagai resistensi pertama dan $58,53 sebagai support utama.
Bagi investor emas lokal, momen ini menarik untuk dicermati. Kombinasi dolar yang melemah dan minyak yang korektif bisa menjadi angin segar bagi emas dalam jangka menengah — terutama jika data inflasi AS minggu depan ikut bersahabat. Untuk memantau harga emas terkini dan menemukan pilihan investasi yang tepat, kunjungi anekalogam.co.id atau singgah langsung ke toko kami di Mall Artha Gading.