Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Saturday, 09 May 2026

Bank Sentral Dunia Masih Lapar Emas, China Borong 8 Ton di Bulan Maret

Rally emas memang sedang tertahan, tapi bank-bank sentral dunia terus mengirim sinyal jelas ke pasar: mereka tetap jadi pembeli setia saat harga melemah.

Data terbaru dari World Gold Council menunjukkan bahwa bank sentral secara net menjual 30 ton emas di bulan Maret — sebagian besar karena penjualan besar dari Turki dan Rusia. Tapi gambaran besarnya tetap positif: sejumlah negara justru menambah cadangan mereka saat harga koreksi. Polandia, Uzbekistan, dan Kazakhstan tetap aktif membeli, sementara China melanjutkan tren akumulasi yang sudah berjalan berbulan-bulan.

Buat investor, yang perlu dicatat bukan satu bulan penjualan kecil, tapi tren struktural yang sudah terbentuk selama empat tahun terakhir. Akumulasi emas makin menjadi keputusan strategis — terkait diversifikasi cadangan, ketidakpastian geopolitik, dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

China tetap jadi pemain kunci. People’s Bank of China (PBoC) sudah menambah cadangan emas resminya selama 18 bulan berturut-turut. Di bulan Maret, PBoC membeli 8 ton emas — pembelian bulanan terbesar sejak Desember 2024 — saat harga masih sekitar 16% di bawah rekor tertinggi Januari 2026.

Yang menarik, porsi emas dalam cadangan resmi global masih relatif kecil. Menurut World Gold Council, emas saat ini hanya mencakup sekitar 15% dari total aset cadangan global — artinya masih ada ruang besar untuk realokasi lebih lanjut.

Pembeli baru pun terus bermunculan. Kosovo misalnya, baru saja membeli emas untuk pertama kalinya dalam sejarahnya. Ini menunjukkan bahwa bahkan bank sentral kecil pun mulai memperkuat stabilitas cadangan mereka lewat eksposur logam mulia. Partisipasi yang makin luas ini memperkuat pandangan bahwa peran emas dalam sistem moneter global sedang berkembang, bukan menyusut.

Yang penting, perilaku terbaru menunjukkan permintaan bank sentral makin tidak sensitif terhadap harga dibanding siklus sebelumnya. Analis mencatat institusi resmi kini lebih fokus pada positioning strategis jangka panjang, bukan valuasi jangka pendek.

Permintaan ini membantu menciptakan apa yang banyak pelaku pasar sebut sebagai “lantai struktural” di bawah harga emas. Meski posisi spekulatif dan arus ETF masih bisa mendorong volatilitas jangka pendek, pembelian sektor resmi memberikan fondasi yang lebih stabil saat terjadi koreksi.

Bukan berarti emas kebal dari penurunan lebih dalam. Kenaikan yield obligasi, penguatan dolar AS, atau fluktuasi ketegangan geopolitik masih bisa menekan harga dalam waktu dekat. Tapi selama bank sentral tetap memperlakukan emas sebagai aset cadangan inti, penurunan signifikan kemungkinan besar akan menarik permintaan sovereign baru.

Untuk saat ini, pasar emas tampak terjebak dalam konsolidasi menunggu katalis makroekonomi berikutnya. Tapi di balik layar, bank sentral terus diam-diam mengakumulasi emas — dan ini mungkin jadi salah satu kekuatan terpenting yang menopang harga emas sepanjang sisa 2026.

Tertarik menambah koleksi emas Anda? Kunjungi Anekalogam di Mall Artha Gading atau cek koleksi lengkap di anekalogam.co.id untuk pilihan emas berkualitas dengan harga terpercaya.